Buni Yani
Tidak cuma itu. Tokoh-tokoh Islam ini juga menjalin komunikasi dengan tokoh-tokoh dari spektrum politik dan ideologi berbeda—atau bahkan (yang dikesankan) bertolak belakang. Mereka bersahabat, saling mengunjungi, dan bila ada salah satu di antara mereka yang dijebloskan ke dalam penjara oleh pemerintah kolonial Belanda, maka mereka yang ada di luar penjara merasa berkewajiban untuk membantu.
Syekh Ahmad Surkati dari al-Irsyad bersahabat dengan KH Ahmad Dahlan dari Muhammadiyah, KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah dari Nahdhatul Ulama, Muhamad Natsir, KH Mas Mansur, HOS Tjokroaminoto, Haji Abdul Karim Amrullah—ayah Hamka yang biasa dipanggil Haji Rasul, dan Kasman Singodimedjo. Mereka rutin saling silaturahmi, bertukar kabar, yang kemudian menghasilkan pertemuan-pertemuan organisasi Islam berskala nasional.
Syekh Surkati juga bersahabat dengan pejuang dari organisasi bukan Islam seperti Semaun—tokoh Sarekat Islam merah yang kelak dikenal sebagai tokoh PKI, proklamator Soekarno, dan jurnalis Marco Kartodikromo. Ketika Marco dibuang dan dijebloskan ke dalam penjara di Boven Digoel oleh Belanda, Syekh Surkati secara sembunyi-sembunyi mengirimkan bantuan ke keluarga Marco.
Inilah sepotong kisah yang termaktub di dalam novel Tapak Mualim: Syekh Ahmad Surkati (1875-1943) karya Ady Amar yang terbit dan diluncurkan di PDS HB Jassin pada November 2024. Seperti tertulis di sampul buku, karya ini adalah “sebuah novel sejarah”, yang memang sarat dengan informasi penting sejak kedatangan Syekh Surkati di Batavia pada tahun 1911.
Ady Amar menggunakan gaya bercerita orang pertama tunggal “aku”—yang dalam hal ini adalah Syekh Surkati sendiri—di dalam menggambarkan Nederlands-Indië sebelum merdeka menjadi Indonesia pada tahun 1945. Ady dengan piawai merangkai peristiwa demi peristiwa dengan riset yang tidak mudah sehingga mampu menghadirkan atmosfir Hindia Belanda pada paruh ke-2 hingga ke-4 abad ke-20.
Inilah novel yang harus dibaca oleh semua anak bangsa untuk memahami perjalanan bangsa sebelum meraih kemerdekaan. Novel yang tidak saja kaya data tetapi juga bisa menjadi pintu masuk untuk memahami peran organisasi dakwah seperti al-Irsyad dalam kaitannya dengan organisasi-organisasi Islam lainnya, serta organisasi-organisasi non Islam yang sedang berjuang merebut kemerdekaan dari penjajah Belanda.
Bagian paling penting dalam kisah persahabatan antara Syekh Surkati yang selalu mengenakan gamis itu adalah ketika sang mualim berjumpa dengan HOS Tjokroaminoto yang selalu mengenakan pakaian adat Jawa lengkap dengan blangkon. Di tengah runcingnya perbedaan pemahaman keagamaan selama 10 tahun Jokowi berkuasa—yang sengaja memecah-belah bangsa—kisah ini menjadi mengharukan.
Di masa lampau, baju dan tampilan luar tidak pernah menimbulkan friksi atau konflik. Para santri, kaum abangan, dan non Muslim tidak pernah mempermasalahkan perbedaan pemahaman keagamaan karena mereka semua tahu musuh bersama adalah penjajah Belanda. Namun di masa Jokowi yang zalim, persoalan ini digosok-gosok terus dengan kriminalisasi secara keji terfokus ke umat Islam.
Sosok HOS Tjokroaminoto—begitu namanya ditulis dalam buku sejarah yang merupakan singkatan dari Hadji Oemar Said Tjokroaminoto—adalah eksemplar pria Jawa di masa lalu yang sudah mulai mengenal Islam namun tidak menganggap kejawaan harus ditinggalkan. Tiga nama pertamanya sangat Islam, tetapi dia tetap merasa perlu mempertahankan nama ningrat Jawa-nya.
Novel sejarah Tapak Mualim yang menggunakan point of view “aku” Syekh Surkati ini cukup adil dalam memotret peristiwa sejarah secara umum yang pernah terjadi di Nederlands-Indië. Dinamika perbedaan pendapat di dalam organisasi al-Irsyad serta polemik sayyid-non sayyid ditulis dengan cukup baik.
Perbedaan pandangan, atau bahkan pecahnya kepengurusan al-Irsyad oleh karena perbedaan pendapat, diceritakan dengan cukup berimbang. Bila tidak diceritakan, maka generasi penerus al-Irsyad, dan juga umat Islam secara umum, tidak akan tahu bagaimana perjuangan membangun organisasi bukanlah hal mudah. Dan itu artinya tidak ada yang bisa dipelajari dari masa lalu. Namun bila diceritakan dengan berlebihan, ini juga potensial menurunkan semangat juang para irsyadiyyin pada masa kini.
Hal yang sama juga ketika Ady Amar menangani kisah asal-muasal berdirinya al-Irsyad, yakni sebagai akibat dari pamitnya Syekh Surkati dari Madrasah Jamiat Khair. Syekh Surkati merasa sudah tidak nyaman dengan perlakuan pengurus madrasah setelah dia memberikan pendapat soal bolehnya pernikahan antara wanita sayyidah dengan lelaki bukan sayyid.
Pendapatnya yang membolehkan pernikahan itu rupanya berujung penerimaan yang kurang simpatik dari sebagian pengurus Jamiat Khair dari kalangan sayyid. Ini membuat Syekh Surkati, mualim yang mengajarkan konsep “al-musawah” atau kesetaraan bagi semua umat manusia sesuai dengan ajaran Islam itu, merasa harus mencari tempat baru untuk berdakwah.
Bagian ini juga ditangani dengan cukup berimbang oleh Ady Amar. Bagian ini perlu disinggung kembali sebagai unit analisis karena masih relevan dengan kondisi sosial-masyarakat kita sekarang. Polemik Ba’lawi-non Ba’lawi beberapa waktu lalu yang cenderung kontraproduktif mestilah belajar dari kisah masa lalu seperti yang pernah dialami oleh Syekh Surkati. Sang mualim yang lembut hati itu pamit dengan cara baik-baik dari Madrasah Jamiat Khair lalu mendirikan al-Irsyad.
Bahkan Syekh Surkati sempat diminta untuk "mengungsi" ke Lawang, sebuah daerah berhawa dingin di Malang, Jawa Timur, demi menghindari gesekan yang lebih besar akibat perbedaan pandangan. Sang mualim sama sekali tidak menolak untuk menarik diri dari polemik yang sedang berlangsung. Inilah contoh adab seorang ulama yang berilmu tinggi. Yang selalu menjadi perhatian dan prioritas utamanya adalah persatuan umat.
Syekh Surkati, seperti ditunjukkan dalam novel, telah berjasa menanamkan benih-benih persatuan dan kesatuan bangsa, khususnya umat Islam, melalui perjuangannya yang tanpa henti. Ia terlibat secara aktif dalam pelaksanaan Congres al-Islam di Tjirebon dan Solo, dua pertemuan tingkat nasional yang bertujuan untuk mempersatukan organisasi-organisasi Islam se-Hindia Belanda.
Sang mualim berhati lembut itu sangat tidak tahan melihat kezaliman yang dilakukan oleh manusia yang satu kepada manusia lainnya, yang dalam hal ini dilakukan oleh penjajah Belanda kepada inlander—yang dikenal dalam literatur modern sebagai l'exploitation l'homme par l'homme. Dia kemudian akan sigap membantu dengan ikhlas tanpa mengharap imbalan apa pun.
Namun sebagai manusia "politik" dalam arti luas, Syekh Surkati merasa tidak cukup mengandalkan perjuangan yang hanya berhenti pada level individu saja. Dia lalu menyusun barisan dalam bentuk wadah organisasi untuk membantu jamaah haji yang tidak mendapatkan hak-hak semestinya. Dalam menunaikan ibadah haji di Mekkah banyak umat Islam dihalau oleh pemerintah kolonial Belanda.
Majalah Balai Poestaka melaporkan terdapat sekitar 4 ribu jamaah haji asal Hindia Belanda, bahkan ada yang mengatakan sampai 7 ribu, terpaksa bermukim di Mekkah, dan kebanyakan dari mereka hidup terlunta-lunta. Jamaah haji yang memilih menetap di Mekkah dan belajar di sana sangat bergantung pada kiriman sango dari orang tua di Hindia Belanda dan mereka tidak mendapatkan hak-hak mereka oleh karena pembatasan yang ketat oleh pemerintah kolonial Belanda.
Pemerintah kolonial Belanda diduga memang sengaja mempersulit umat Islam di Mekkah, baik bagi mereka yang sedang melakukan ibadah haji, menuntut ilmu, menjalankan perniagaan, ataupun bagi mereka yang melakukan kunjungan biasa. Karena kezaliman pemerintah kolonial Belanda inilah maka Syekh Surkati membentuk Komite Penolong Haji yang kemudian berdampak pada perbaikan kondisi umat Islam di Mekkah.
Bagi peneliti modernitas, novel Tapak Mualim memberikan insight yang penting karena menghadirkan serpihan kecil mengenai bagaimana Nederlands-Indië di bawah pemerintah kolonial Belanda tidak luput dari apa yang disebut oleh para sarjana sebagai colonial modernity (modernitas kolonial). Istilah ini menjelaskan bahwa modernitas, yang dalam hal ini dipahami sebagai kemajuan, tak luput dari peran penjajah yang membawa kemajuan ke daerah jajahan.
Hal ini misalnya ditunjukkan dengan organisasi seperti al-Irsyad yang berdiri menggunakan AD/ART dan harus mendapatkan izin dari pemerintah kolonial Belanda. AD/ART adalah konstitusi sebuah organisasi yang tidak ditemukan dalam perkumpulan-perkumpulan tradisional. Bisa dipastikan Belanda-lah yang membawa konsep organisasi modern seperti ini.
Modernitas Islam yang berbeda dengan ideologi, kepercayaan dan filsafat pemerintah kolonial Belanda menjadi isu sentral dari Tapak Mualim bila kita secara seksama menelisik fragmen-fragmen yang tersaji dari awal sampai akhir novel. Ady Amar secara tekun mengumpulkan serpihan-serpihan yang menunjukkan Islam memiliki pendapat sendiri mengenai apa yang dimaksud dengan kemajuan atau modernitas.
Syekh Surkati sangat paham bahwa modernitas tidaklah tunggal, meskipun dia tidak menyandarkan pendapatnya pada teori khusus mengenai kebudayaan. Yang jelas, sebagai ulama yang memiliki wawasan yang luas, sang mualim paham bahwa modernitas Islam haruslah berlandaskan al-Qur’an dan Hadits.
Ini mungkin sejenis teori yang mewujud menjadi amaliyah nyata, bukan sekadar teori an sich seperti di Barat yang dikenal sebagai modernitas jamak (multiple modernities) (Eisenstadt 2000), yang berpendapat bahwa aspirasi dan praktik modernitas tidaklah tunggal. Teori ini mengeritik para sarjana yang berpendapat modernitas atau kemajuan hanya bisa diatribusikan dan diasosiasikan dengan Barat. Sebaliknya, kata teori ini, modernitas itu jamak, dan bisa ditemukan di mana saja sesuai kondisi budaya setempat.
Modernitas Islam jelas punya teori dan praksis sendiri yang berbeda dengan kebudayaan, peradaban dan agama lain. Islam mengajarkan seperangkat tata cara menuju kemajuan, yaitu kemajuan menurut akidah Islam. Syekh Surkati tidak mengatakan teorinya secara lantang, namun siapa pun pembelajar modernitas akan cepat menangkap pesan di balik ajaran dan gerak perjuangannya—yang memang bisa disebut modernitas Islam.
Ady Amar berulang kali menggambarkan bahwa dasar dari perjuangan para mujahid Islam dalam novelnya berasal dari para ulama, terutama ulama pembaharuan Islam seperti Rasyid Ridha, Muhammad Abduh, dan Jamaluddin al-Afghani. Syekh Surkati setidaknya bersentuhan dengan ide-ide para mujaddid itu, lalu tersambung dengan wacana pan Islamisme yang dimimpikan oleh hampir semua aktivis Muslim.
Kedalaman pengetahuan Syekh Surkati, termasuk mengenai modernitas Islam khususnya di Nederlands-Indië, dengan nyata ditunjukkan dengan undangan untuk memberikan ceramah bagi para mahasiswa STOVIA, sekolah kedokteran pribumi paling elit pada waktu itu. Tidak hanya itu, beberapa ambtenaar pemerintah kolonial Belanda sengaja datang ke kediaman sang mualim untuk diajari agama Islam. Ini fakta yang tidak bisa dibantah bahwa sang mualim memang berada dalam lingkaran kemajuan bangsa—yang kelak akan menghasilkan kemerdekaan.
Sekali lagi, ini novel yang mesti dibaca oleh semua anak bangsa karena kayanya informasi penting di dalamnya. Luasnya wawasan penulis yang juga dikenal sebagai kolumnis memberikan nilai tambah dalam memilih, meramu, dan menghadirkan informasi yang punya nilai sejarah tinggi.
Kita berharap akan semakin banyak peristiwa-peristiwa penting sejarah dijadikan novel sehingga gampang dibaca oleh khalayak luas. Khusus untuk novel Tapak Mualim, penulisnya perlu mempertimbangkan membuat indeks subyek dan nama tokoh di akhir novel untuk memudahkan pencarian informasi sejarah yang penting. Bukan tidak mungkin, bila novel ini memenuhi kelayakannya sebagai sumber informasi, maka ia akan dijadikan referensi yang bermanfaat di perguruan tinggi.Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriyah, maaf lahir dan batin. ***